Sabtu, 13 Desember 2014

Puisi :)

Demi Indonesia Yang Lebih Jaya
Karya: Rafli

Masih segar diingatan kita
Peristiwa 85 tahun yang lalu
Saat pemuda-pemudi bersumpah
Bahwa kita satu darah, yakni Indonesia

Indonesia tercinta
Indonesia yang kaya akan sumber daya
Tapi kini.. Apa ??
Indonesia hanya lautan manusia yang tak aa gunanya

Kemana harta kita ?
Kemana semua sumber daya kita ?
Mengapa tak kelihatan hasilnya ?
Apakah hanya sampah semata ?

Mungkin ulah tikus-tikus berdasi
Yang serakah akan uang yang dimilikinya
Ia tak serakah bahwa itu bukanlah hartanya !
Ia tak sadar bahwa semua itu hanyalah daun semata !

Tak ada lagi harta indonesia !
Yang ada hanya utang dimana-mana !
Bukan tak mungkin bila nantinya berkapling-kapling tanah indonesia digadaikan untuk membayar hutang kita !

Sampai kapan kita seperti ini ?
Hanya bisa diam menggigit jari
Menunggu janji yang tak pasti
Dari mereka orang-orang yang tak berbudi

Kita tak bisa tinggal diam !
Kita harus bangkit dari keterpurukan ekonomi ini !
Kita harus benahi semuanya !
Demi Indonesia yang lebih jaya !

Minggu, 26 Oktober 2014

surat wasiat & kaos kaki robek

Ada seorang miloner yg sangat kaya . beliau
berpesan pada 5 anaknya .
wahai anakku kalo ayah meninggal nanti
tolong pasang kaos kaki robek utk ayah bawa
ke kubur .
ketika pengusaha ini mati mau dikafani .
seorang anak menyampaikan pesan kepada
penyelenggara jenzah . bahwa ayah kami
pernah berwasiat . kalo mati tolong pasang
kaos kaki robek buat ayah .
kemudian terjadi perang adu mulut antara
anak & penyaelenggara jenazah .
bahwa tidak ada syariat orang mati bawa
kaos kaki robek .
kemudian salah satu anak pengusaha ini
membuka lemari mengambil surat wasiat &
diberikan pada penyelenggara jenazah .
surat wasiat ini sudah lama dibikin bersama
notaris boleh dibuka kalo pengusaha ini
meninggal .
isi wasiat sebagai berikut .
"wahai anak anakku
selagi hidup banyak beramal soleh . tidak ada
satupun yg bisa bantu kecuali amal kebaikan .
mobil . kebun sawit . ruko . jabatan semua
tinggal didunia
termasuk KAOS KAKI yg sudah ROBEK juga
tidak ikut .
pesan ayah wahai anakku
hidup DI DUNIA hanya tipuan belaka .

Fakta dan Kelakuan Anak Sekolah

1. Di pagi hari paling males kalo bangun pagi siap2 ke sekolah.
Apalagi kalo cuaca mendung atau gerimis, banyak yg berharap hujan badai sekalian biar ga perlu berangkat sekolah.

2. Terutama hari senin. Upacara bendera adalah kegiatan yg paling sedikit peminatnya. Ga tulus bgt ngejalaninnya. Apalagi kalo pembina upacara ngasih pidato panjang lebar kali tinggi, huh.. asli banyak yg menderita tekanan batin!

3. Kalopun berangkat pagi2, itu ga lain ga bukan karena malamnya ga ngerjain PR, pengen nyari contekan dari temen2.

4. Merasa bahagia tiada tara kalo ada pelajaran kosong. Wahh... Seisi kelas bakal memanfaatkannya untuk ngobrolin segala hal2, dari yg ga penting sampai yg paling ga penting, ketawa ketiwi, dandan, mainin hape, baca buku tapi bukan buku2 rekomendasi sekolah. Pokoknya nano2lah rame rasanya!

5. Tapi rasa bahagia itu bisa berubah menjadi rasa duka yg mendalam, saat ada guru lain sok keren ngisi pelajaran kosong itu! Ngasih tugas ngerjain halaman berapa gitu, dan musti dikumpulin saat jam pelajaran berakhir. Kambing lah!

6. Belajarnya cuma kalo lagi mau ada ulangan atau pas musim ujian aja. Itupun memakai sistem kebut semalam. Bikin contekan ditulis di kertas2 kecil, di tangan, di balik tempat pensil, dll.

7. Sebel bgt kalo udah bikin contekan banyak2 ternyata ga ada yang muncul di soal ujian! Sia2 sudah perjuangan..

8. Bete sama temen yg pinter tapi pelit ga mau membantu ngasih jawaban. Giliran dikasih contekan ternyata jawabannya disalah2in.

9. Paling ngefans sama soal pilihan ganda. Kalau mentok tinggal silang huruf yang paling sedikit dilembar jawaban

10. Kantin menjadi tempat tujuan paling populer saat jam istirahat. Kalo Perpustakaan ?
Hadoh, Kayaknya tempat ini musti dilengkapi fasilitas kamar tidur, internet, karaoke dan PS2, PS3, PS4, sama komputer gaminglah biar menarik minat siswa/siswi untuk mengunjunginya!

11. Hal yang paling bete banget pas lagi seru2nya santai tiba2 bel tanda masuk berbunyi. Jam istirahat terasa singkat, tapi jam belajar bagaikan seabad!

12. Kalo ada guru telat masuk santai aja ga masalah. Tapi kalo telat keluar padahal jam pelajaran udah selesai, ini jelas jadi masalah. Aksi protes bakal menggema sampai ke sudut2 paling terpencil kelas.

13. Kalo udah jam-jam terakhir, pasti bentar-bentar ngecek jam. Berharap cepet2 pulang ke rumah. Tapi ketika jam pulang tiba, bukannya langsung pulang ke rumah, justru mampir ke mall, nyangkut di warnet, nongkrong di perempatan, terdampar di rumah temen dan lain2...

Yah... Inilah Fakta dan kelakuan-kelakuan yang terjadi pada anak sekolahan..

Kamis, 07 Agustus 2014

Cerpen : IBU BUTA YANG MEMALUKANKU

Saat aku beranjak dewasa, aku mulai mengenal sedikit kehidupan yang menyenangkan, merasakan kebahagiaan memiliki wajah yang tampan, kebahagiaan memiliki banyak pengagum di sekolah, kebahagiaan karena kepintaranku yang dibanggakan banyak guru. Itulah aku, tapi satu yang harus aku tutupi, aku malu mempunyai seorang ibu yang Buta! Matanya tidak ada satu. Aku sangat malu, benar-benar

Aku sangat menginginkan kesempurnaan terletak padaku, tak ada satupun yang cacat dalam hidupku juga dalam keluargaku. Saat itu ayah yang menjadi tulang punggung kami sudah dipanggil terlebih dahulu oleh yang Maha Kuasa. Tinggallah aku anak semata wayang yang seharusnya menjadi tulang punggung pengganti ayah. Tapi semua itu tak kuhiraukan. Aku hanya mementingkan kebutuhan dan keperluanku saja. Sedang ibu bekerja membuat makanan untuk para karyawan di sebuah rumah jahit sederhana.

Pada suatu saat ibu datang ke sekolah untuk menjenguk keadaanku. Karena sudah beberapa hari aku tak pulang ke rumah dan tidak tidur di rumah. Karena rumah kumuh itu membuatku muak, membuat kesempurnaan yang kumiliki manjadi cacat. Akan kuperoleh apapun untuk menggapai sebuah kesempurnaan itu.

Tepat di saat istirahat, Kulihat sosok wanita tua di pintu sekolah. Bajunya pun bersahaja rapih dan sopan. Itulah ibu ku yang mempunyai mata satu. Dan yang selalu membuat aku malu dan yang lebih memalukan lagi Ibu memanggilku. “Mau ngapain ibu ke sini? Ibu datang hanya untuk mempermalukan aku!” Bentakkan dariku membuat diri ibuku segera bergegas pergi. Dan itulah memang yang kuharapkan. Ibu pun
bergegas keluar dari sekolahku. Karena kehadiranya itu aku benar-benar malu, sangat malu. Sampai beberapa temanku berkata dan menanyakan. “Hai, itu ibumu ya???, Ibumu matanya satu ya?” yang menjadikanku bagai disambar petir mendapat pertanyaan seperti itu.

Beberapa bulan kemudian aku lulus sekolah dan mendapat beasiswa di sebuah sekolah di luar negeri. Aku mendapatkan beasiswa yang ku incar dan kukejar agar aku bisa segera meninggalkan rumah kumuhku dan terutama meninggalkan ibuku yang membuatku malu. Ternyata aku berhasil mendapatkannya. Dengan bangga kubusungkan dada dan aku berangkat pergi tanpa memberi tahu Ibu karena bagiku itu tidak perlu. Aku hidup untuk diriku sendiri. Persetan dengan Ibuku. Seorang yang selalu mnghalangi kemajuanku.

Di Sekolah itu, aku menjadi mahasiswa terpopuler karena kepintaran dan ketampananku. Aku telah sukses dan kemudian aku menikah dengan seorang gadis Indonesia dan menetap di Singapura.

Singkat cerita aku menjadi seorang yang sukses, sangat sukses. Tempat tinggalku sangat mewah, aku mempunyai seorang anak laki-laki berusia tiga tahun dan aku sangat menyayanginya. Bahkan aku rela mempertaruhkan nyawaku untuk putraku itu.

10 tahun aku menetap di Singapura, belajar dan membina rumah tangga dengan harmonis dan sama sekali aku tak pernah memikirkan nasib ibuku. Sedikit pun aku tak rindu padanya, aku tak mencemaskannya. Aku BAHAGIA dengan kehidupan ku sekarang.

Tapi pada suatu hari kehidupanku yang sempurna tersebut terusik, saat putraku sedang asyik bermain di depan pintu. Tiba-tiba datang seorang wanita tua renta dan sedikit kumuh menghampirinya. Dan kulihat dia adalah Ibuku, Ibuku datang ke Singapura. Entah untuk apa dan dari mana dia memperoleh ongkosnya. Dia datang menemuiku.

Seketika saja Ibuku ku usir. Dengan enteng aku mengatakan: “HEY, PERGILAH KAU PENGEMIS. KAU MEMBUAT ANAKKU TAKUT!” Dan tanpa membalas perkataan kasarku, Ibu lalu tersenyum, “MAAF, SAYA SALAH ALAMAT”

Tanpa merasa besalah, aku masuk ke dalam rumah.

Beberapa bulan kemudian datanglah sepucuk surat undangan reuni dari sekolah SMA ku. Aku pun datang untuk menghadirinya dan beralasan pada istriku bahwa aku akan dinas ke luar negeri.

Singkat cerita, tibalah aku di kota kelahiranku. Tak lama hanya ingin menghadiri pesta reuni dan sedikit menyombongkan diri yang sudah sukses ini. Berhasil aku membuat seluruh teman-temanku kagum pada diriku yang sekarang ini.

Selesai Reuni entah megapa aku ingin melihat keadaan rumahku sebelum pulang ke Sigapore. Tak tau perasaan apa yang membuatku melangkah untuk melihat rumah kumuh dan wanita tua itu. Sesampainya di depan rumah itu, tak ada perasaan sedih atau bersalah padaku, bahkan aku sendiri sebenarnya jijik melihatnya. Dengan rasa tidak berdosa, aku memasuki rumah itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ku lihat rumah ini begitu berantakan. Aku tak menemukan sosok wanita tua di dalam rumah itu, entahlah dia ke mana, tapi justru aku merasa lega tak bertemu dengannya.

Bergegas aku keluar dan bertemu dengan salah satu tetangga rumahku. “Akhirnya kau datang juga. Ibu mu telah meninggal dunia seminggu yang lalu”

“OH…”

Hanya perkataan itu yang bisa keluar dari mulutku. Sedikit pun tak ada rasa sedih di hatiku yang kurasakan saat mendengar ibuku telah meninggal. “Ini, sebelum meninggal, Ibumu memberikan surat ini untukmu”

Setelah menyerahkan surat ia segera bergegas pergi. Ku buka lembar surat yang sudah kucal itu.

Untuk anakku yang sangat Aku cintai,
Anakku yang kucintai aku tahu kau sangat membenciku. Tapi Ibu senang sekali waktu mendengar kabar bahwa akan ada reuni disekolahmu.
Aku berharap agar aku bisa melihatmu sekali lagi. karena aku yakin kau akan datang ke acara Reuni tersebut.
Sejujurnya ibu sangat merindukanmu, teramat dalam sehingga setiap malam Aku hanya bisa menangis sambil memandangi fotomu satu-satunya yang ibu punya.Ibu tak pernah lupa untuk mendoakan kebahagiaanmu, agar kau bisa sukses dan melihat dunia luas.
Asal kau tau saja anakku tersayang, sejujurnya mata yang kau pakai untuk melihat dunia luas itu salah satunya adalah mataku yang selalu membuatmu malu.
Mataku yang kuberikan padamu waktu kau kecil. Waktu itu kau dan Ayah mu mengalami kecelakaan yang hebat, tetapi Ayahmu meninggal, sedangkan mata kananmu mengalami kebutaan. Aku tak tega anak tersayangku ini hidup dan tumbuh dengan mata yang cacat maka aku berikan satu mataku ini untukmu.
Sekarang aku bangga padamu karena kau bisa meraih apa yang kau inginkan dan cita-citakan.
Dan akupun sangat bahagia bisa melihat dunia luas dengan mataku yang aku berikan untukmu.
Saat aku menulis surat ini, aku masih berharap bisa melihatmu untuk yang terakhir kalinya, Tapi aku rasa itu tidak mungkin, karena aku yakin maut sudah di depan mataku.
Peluk cium dari Ibumu tercinta

Bak petir di siang bolong yang menghantam seluruh saraf-sarafku, Aku terdiam! Baru kusadari bahwa yang membuatku malu sebenarnya bukan ibuku, tetapi diriku sendiri....

Sabtu, 02 Agustus 2014

Perbedaan anak-anak Zaman Dulu dan Zaman Sekarang

Assalamu'alaikum..
Mau post niiih...
Kali ini postnya mau ceritain mirisnya jaman sekarang..
Yuk mulaaaai..

Jaman dulu emang gak secanggih anak sekarang tapi apakah dengan kecanggihan jaman membuat kita lupa budaya lupa sopan santun dan lupa adat istiadat sebelum terlanjur sebaiknya ligkungan mendukung untuk memperkenalkan anak, adik atau siapapun klo ada anak kecil permainan jaman dulu tidak terlalu memalukan atau terlalu jadul untuk dikembangkan.

perbedaan nya sangat lah nyata banget tahun 90an vs tahun 2000an

Jaman SD dan SMP kita dulu siapa aja Si yang pernah trend pada tahun anak-anak yang lahir tahun 1990-an

* Artis cilik Bondan Prakoso (lumba-Lumba) Eno Lerian (nyamuk nakal), Melisa ( semut-semut kecil) ,Meysi , Trio kwek2 ,Joshua (lagu diobok-obok), atau Sherina (lagu dia pikir)

*Baca komik doraemon , Dragon Ball,Kungfu boy, atau story Book , GhooseBumps ( baca di kelas sampe di sita bu guru)

* Rebutan main Mesin Dindong, Klo tajir beli Nintendo , Sega ato Game boy buat main game Mario Bross sama Sonic, klo cewek maen bongkar pasang, maen petak umpet,maen tali paling puol main tamagochi

* Ngabisin Koin di Telepon umum atau wartel, buat PDKT sama kenalan (jaman dulu pacaran paling puol telp-telpnan,su rat-suratan klo ketemu malu-malu,jaman sekarang masyaallah klo kata syarini sesuatu banget klo ndak gandengan tangan,kiss namanya ndak cinta, anak sd aja udh tau pacaran)

* Pake jam G-shock

* Main monopoli , ular tangga atau kartu hologram kuartet yang kalah di coret pake bedak

* maen tamiya sampe lupa waktu akhirnya Ortu dateng cariin ke trek tempat maen tamiya

* jaman dulu itu anak-anak paling antusias buat mandi di sungai

* beli cokelat jago sama wafer coklat merk superman n makan jagoan neon biar lidahnya berubah warna warni

* yang orang jawa berusaha ngapalin aksara jawa beserta pasangannya tapi ujung-ujungnya tetep buka buku hehehehheh

* bangga make tas slempang bermerk kutalines ataw Dagadu

* Nonton Kotaro Minami jadi kesatria Baja Hitam dan saint seiya sama power rangers

* beli sepatu sekolah yang di belakangnya ada lampu nyala klo di buat jalan ( PRO ATT )

* ngumpulin TAZOS dari CHiki ,Chitato yang banyak punya koleksi bangga

* ngumpulin kertas file lucu2an n tuker-tuker’an sama temen

*dulu sempet ada gosip pulpen narkoba yang wangi banget ( takut aja produsen pulpen kalah saing jadi gosip deh)

* make Neckerman anti slip atau Carvil dan di plesetin jadi ” nyekerman”

* ngerasa kurang gaul klo belum ngisi diary punya temen “MY Biodata”

Dear generasi 2000an.
Selamat, kalian lahir di jaman yang sangat modern. Hay kalian generasi baru, beruntunglah kalian di umur semuda ini sudah menggunakan gadget canggih, berbeda dengan masa kami yang sangat awam sekali dengan teknologi . Yang kami tahu hanyalah majalah bobo, no browsing or internet. Game canggih pun hanya tamagochi dan tetris, bahkan untuk bermain ps pun sudah berasa paling keren. Tontonan kami hanya film anak anak, benar benar film untuk anak. Hari minggu adalah hari yg paling ditunggu, karena banyak film kartun di tayangkan di hari itu. Pulang sekolah langsung main, atau tidur siang. Bersepeda bermain monopoli dengan teman atau bermain apapun asal dengan teman . Yang kami tahu hanya lagu meisyi, trio wek wek, tasya dll, sedangkan skrg? Penyanyi cilik menyanyikan lagu lagu cinta. Tontonan pun banyak yang tidak layak untuk dilihat . Ironis bukan? Berbeda dengan kalian sekarang, segala sesuatu serba canggih , tidak perlu panas panasan seperti kami untuk bermain . Tapi tak apa, memang kami terlahir di jaman teknologi belum canggih, tapi kami senang. Kami senang bisa merasakan rasanya bebas lepas tanpa beban menjadi anak kecil, bermain sesuka hati tanpa harus memikirkan kuota, bayar warnet untuk game online dll. Cukup di depan rumah pun asal dengan teman teman, kami rasa sudah senang. Tak ada beban untuk memikirkan percintaan di umur semuda kalian. Karena itulah kodratnya seorang anak kecil. Jadilah anak kecil yg sewajarnya adik adikku, berperilakulah sesuai usiamu. Menjadi dewasa itu tidak mudah, janganlah tergesa gesa untuk menjadi dewasa, nikmatilah masa kanak kanakmu dek, jangan matang sebelum berkembang.

-Dari Berbagai Sumber-


Oke aku akhiri postinganku ini dengan ucapan "sering-sering main ke blog ku ya :D"
Ass, thank you, see you, and bye bye
Assalamu'alaikum..
Mau post niiih...
Kali ini postnya mau ceritain mirisnya jaman sekarang..
Yuk mulaaaai..

Jaman dulu emang gak secanggih anak sekarang tapi apakah dengan kecanggihan jaman membuat kita lupa budaya lupa sopan santun dan lupa adat istiadat sebelum terlanjur sebaiknya ligkungan mendukung untuk memperkenalkan anak, adik atau siapapun klo ada anak kecil permainan jaman dulu tidak terlalu memalukan atau terlalu jadul untuk dikembangkan.

perbedaan nya sangat lah nyata banget tahun 90an vs tahun 2000an

Jaman SD dan SMP kita dulu siapa aja Si yang pernah trend pada tahun anak-anak yang lahir tahun 1990-an

* Artis cilik Bondan Prakoso (lumba-Lumba) Eno Lerian (nyamuk nakal), Melisa ( semut-semut kecil) ,Meysi , Trio kwek2 ,Joshua (lagu diobok-obok), atau Sherina (lagu dia pikir)

*Baca komik doraemon , Dragon Ball,Kungfu boy, atau story Book , GhooseBumps ( baca di kelas sampe di sita bu guru)

* Rebutan main Mesin Dindong, Klo tajir beli Nintendo , Sega ato Game boy buat main game Mario Bross sama Sonic, klo cewek maen bongkar pasang, maen petak umpet,maen tali paling puol main tamagochi

* Ngabisin Koin di Telepon umum atau wartel, buat PDKT sama kenalan (jaman dulu pacaran paling puol telp-telpnan,su rat-suratan klo ketemu malu-malu,jaman sekarang masyaallah klo kata syarini sesuatu banget klo ndak gandengan tangan,kiss namanya ndak cinta, anak sd aja udh tau pacaran)

* Pake jam G-shock

* Main monopoli , ular tangga atau kartu hologram kuartet yang kalah di coret pake bedak

* maen tamiya sampe lupa waktu akhirnya Ortu dateng cariin ke trek tempat maen tamiya

* jaman dulu itu anak-anak paling antusias buat mandi di sungai

* beli cokelat jago sama wafer coklat merk superman n makan jagoan neon biar lidahnya berubah warna warni

* yang orang jawa berusaha ngapalin aksara jawa beserta pasangannya tapi ujung-ujungnya tetep buka buku hehehehheh

* bangga make tas slempang bermerk kutalines ataw Dagadu

* Nonton Kotaro Minami jadi kesatria Baja Hitam dan saint seiya sama power rangers

* beli sepatu sekolah yang di belakangnya ada lampu nyala klo di buat jalan ( PRO ATT )

* ngumpulin TAZOS dari CHiki ,Chitato yang banyak punya koleksi bangga

* ngumpulin kertas file lucu2an n tuker-tuker’an sama temen

*dulu sempet ada gosip pulpen narkoba yang wangi banget ( takut aja produsen pulpen kalah saing jadi gosip deh)

* make Neckerman anti slip atau Carvil dan di plesetin jadi ” nyekerman”

* ngerasa kurang gaul klo belum ngisi diary punya temen “MY Biodata”

Dear generasi 2000an.
Selamat, kalian lahir di jaman yang sangat modern. Hay kalian generasi baru, beruntunglah kalian di umur semuda ini sudah menggunakan gadget canggih, berbeda dengan masa kami yang sangat awam sekali dengan teknologi . Yang kami tahu hanyalah majalah bobo, no browsing or internet. Game canggih pun hanya tamagochi dan tetris, bahkan untuk bermain ps pun sudah berasa paling keren. Tontonan kami hanya film anak anak, benar benar film untuk anak. Hari minggu adalah hari yg paling ditunggu, karena banyak film kartun di tayangkan di hari itu. Pulang sekolah langsung main, atau tidur siang. Bersepeda bermain monopoli dengan teman atau bermain apapun asal dengan teman . Yang kami tahu hanya lagu meisyi, trio wek wek, tasya dll, sedangkan skrg? Penyanyi cilik menyanyikan lagu lagu cinta. Tontonan pun banyak yang tidak layak untuk dilihat . Ironis bukan? Berbeda dengan kalian sekarang, segala sesuatu serba canggih , tidak perlu panas panasan seperti kami untuk bermain . Tapi tak apa, memang kami terlahir di jaman teknologi belum canggih, tapi kami senang. Kami senang bisa merasakan rasanya bebas lepas tanpa beban menjadi anak kecil, bermain sesuka hati tanpa harus memikirkan kuota, bayar warnet untuk game online dll. Cukup di depan rumah pun asal dengan teman teman, kami rasa sudah senang. Tak ada beban untuk memikirkan percintaan di umur semuda kalian. Karena itulah kodratnya seorang anak kecil. Jadilah anak kecil yg sewajarnya adik adikku, berperilakulah sesuai usiamu. Menjadi dewasa itu tidak mudah, janganlah tergesa gesa untuk menjadi dewasa, nikmatilah masa kanak kanakmu dek, jangan matang sebelum berkembang.

-Dari Berbagai Sumber-


Oke aku akhiri postinganku ini dengan ucapan "sering-sering main ke blog ku ya :D"
Ass, thank you, see you, and bye bye

Minggu, 20 Juli 2014

Perbedaan Indonesia Dan LuarNegeri Soal Pendidikan

BUDAYA MENGHUKUM DAN MENGHAKIMI PARA PENDIDIK DI INDONESIA

BUDAYA KEBODOHAN YANG MASIH TERUS DILESTARIKAN HINGGA HARI INI

-Mulai sejak SD hingga Perguruan Tinggi-
-Mulai dari guru dan dosen hingga para Senior ke Junior-

Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

…Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”

“Dari Indonesia,” jawab saya.

Dia pun tersenyum.

BUDAYA MENGHUKUM

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

***

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

MELAHIRKAN KEHEBATAN

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

ALHAMDULLILAH LINK SUMBER NASKAH ASLINYA DI TEMUKAN OLEH PAK IMAM: http://mm.fe.ui.ac.id/index.php/berita/261-encouragement-prof-rhenald-kasali-phd